Logo STKIP PGRI Ngawi
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Persatuan Guru Republik Indonesia
NGAWI



STATUS: TERAKREDITASI
Berita Terbaru‎ > ‎

Seminar Internasional: KESASTRAAN DAN PENGAJARANNYA

diposkan pada tanggal 17 Des 2010 01:17 oleh BAAK STKIP PGRI Ngawi

SEMINAR KESASTRAAN INTERNASIONAL STKIP PGRI NGAWI:

SASTRA SEBAGAI PEMBENTUK  KARAKTER BANGSA

SERTA POSISINYA DALAM LOKALITAS DAN GLOBALITAS

A.      LATAR BELAKANG     

              Kehadiran karya sastra merupakan simbolisasi dari pemikiran spekulatif pengalaman manusia atas dirinya, bangsa dan dunianya. Dengan karya sastra lewat media berupa bahasa sastrawan berusaha merefleksikan, berpikir dan berabstraksi terhadap realitas manusia-bangsa dengan segenap permasalahannya. Proses refleksi diri ini bisa menghasilkan sebuah kerangka pemikiran filosofis untuk mengungkapkan fakta atau realitas hidup secara lebih komprehensif dan utuh. Pada saat inilah sastra berbicara tentang upaya pencarian diri dan penyosokan identitas manusia dan identitas bangsa sekaligus pula berperanan sebagai sebuah wahana intropeksi dan motivasi diri. Dalam kerangka refleksi diri ini seringkali sastrawan melakukan otokritik terhadap identis dirinya, identitas bangsa dan identititas budaya..

              Berkaitan dengan kehidupan berbangsa, sudah sejak lama sastra kita langsung maupun tidak langsung turut ambil bagian dengan proses tumbuhnya bangsa.  Lahirnya sastra Indonesia modern bermula dari sebuah produk lingkungan masyarakat yang terpojok sebagai anak jajahan yang berusaha menemukan suatu cara ekspresi untuk mengatasi trauma sebagai korban kolonial. Dapat diibaratkan bahwa kebudayaan nusantara akibat kedatangan imperalisme Barat menjadi retak dan koyak-moyak, dalam koyak moyak itulah muncul bahasa dan kesusastraan Indonesia. Bahasa dan kesusastraan Indonesia menemukan momuntem awalnya di tahun 1920-an dalam masa awal semangat nasionalisme dimana sebuah elite baru muncul. Golongan elite baru ini berasal dari kalangan terpelajar yang kemudian memunculkan semangat pembentukan satu bangsa dan satu tanah air yang melalui media kesusastraan bergerak bersama membidani mitos baru tentang pengontruksian kebersamaan yang oleh Benedict Anderson disebut sebagai “imagined community”.

Semangat untuk bergerak bersama merekontruksi tentang imagined community ini terlihat transparan pada sajak-sajak Muh. Yamin dan Roestam Efendi yang sepakat tidak lagi menyebut Andalas atau Sumatera sebagai tanah air mereka tetapi mengikrarkan Indonesia sebagai tanah air dan tumpah darah. Sekaligus pula timbul perlawanan terhadap akar  tradisi. Namun di sisi lain penghujatan tradisi lewat representasi yang akrab dengan kaum muda lewat tema-tema “kawin paksa” paksa tersebut juga membuka cakrawala imajinasi kalangan muda Indonesia dalam skala yang lebih luas yaitu dalam skala state atau nation. Dalam imajinasi kaum muda, seperti halnya Datuk Maringgih yang tua, Nusantara lama mulai dianggap sebagai suatu “komunitas” usang yang harus segara diganti dengan komunitas baru. Karena itu tidak sulit bagi para muda pada generasi setelah generasi Siti Nurbaya, seperti M. Yamin, Roestam Efendi, dr. Soetomo, Dr. Wahidin dan lain-lain untuk mengabaikan berbagai perbedaan budaya nusantara dan tradisi asal masing-masing untuk menghidupi sebuah komunitas baru yang mengimajinasikan modenitas muda seperti Syamsul Bachri yang muda, penuh gairah semangat, yakni sebuah nation baru bernama Indonesia.

Dalam benak kaum muda waktu itu, Indonesia diimajinasikan sebagai sebuah entitas baru yang demokratis tanpa kawin paksa, sebuah negeri yang segar, belia, bisa mencinta dan merdeka dengan penuh semangat. Dalam perspektif ini bisa dipahami mengapa para pemuda dalam berbagai tradisi saat Kongres Pemuda dengan lapang dada menerima bahasa Melayu Riau sebagai dasar bahasa Indonesia. Bahasa Melayu (Indonesia) diandaikan sebagai bahasa yang egalitarian tempat seorang muda dapat berbicara dengan orang tua dalam posisi yang sama.

Perjuangan politik dan kebudayaan melalui bahasa-sastra dalam upaya menggagas manausia-bangsa menemukan puncaknya dengan munculnya perdebatan untuk menggagas arah kebudayaan Indonesia yang dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan”. Terjadi perdebatan dan diskusi yang cukup lapang antara kamum muda dan kaum tua. Tidak ditemukan lagi kaum tua dan tradisi yang dihujat seperti dalam Balai Poestaka. Kaum muda seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan Armyn Pane dengan penuh semangat dapat berdebat panjang bahkan berpolemik dengan kaum tua seperti Ki Hajar Dewantoro dan Prof. Ngabei Poerbatjaraka dengan nyaman dan intelektual dalam bingkai semangat menuju kebudayaan baru Indonesia yang lebih baik.

            Kini, delapan puluh tahun lebih setelah Sumpah Pemuda dan Polemik Kebudayaan,masihkah sastra menjadi “jurus ampuh” untuk menggagas atau membentuk sosok manusia-bangsa Indonesia kini?

              Di sisi lain kondisi kehidupan social budaya  masyarakat kita kini terlebih lagi kelak tidaklah sama persis dengan masa lalu. Tingkat komunalitas masyarakat  yang cenderung menurun, kepedulian yang perlahan makin menipis, kebersamaan dan keguyuban yang tidak lagi menjadi “seindah dulu”, tingkat persaingan individu yang makin tinggi, kenderungan turunnya spiritualitas dan moral akibat “iming-iming” kebutuhan praktis yang cenderung material, tentu turut membawa perubahan besar pada wajah social budaya manusia bangsa.

              Dalam situasi itu pula sastra Indonesia sekarang dan kelak seperti halnya manusia-bangsa Indonesia, kini dan ke depan tak mungkin menghindar dari pergaulan bahkan kemutlakan sastra dunia. Sastra Indonesia kini dan akan datang telah menjadi bagian dari sastra dunia. Dari pergaulan satra dunia tentulah akan banyak hal yang dapat dijelajahi, dipahami sekaligus dipelajari bahkan apabila mungkin disandingkan dengan kekayaan sastra local yang telah kita miliki. Karena justru dalam himpitan global itu akan selalu muncul “mitos” baru sebagai tanggapan atas mnitos yang sudah ada sebelumnya, tradisi inilah yang menyebabkan kita  dan sastra kita  memiliki masa lampau sekaligus masa depan. Di tengah gelontoran global itu pula sastrawan Indonesia yang mampu memanfaatkan sejarah yang tidak saja sekedar sebagai pas significance namun lebih menyikapinya sebagai sebuah pendekatan antikurian dan kritis yang dapat meletakkannya dengan hubungannya dengan masa kini (present of meaning), bahkan sebagai future meaning akan lebih mengukuhkan identitas sastra Indonesia sekaligus membentuk karakter  manusia-bangsa Indonesia

B.          TEMA SEMINAR:

“SASTRA INDONESIA DAN PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA SERTA POSISINYA DALAM LOKALITAS DAN GLOBALITAS”

C.          TUJUAN

1.       Merekonstruksi kembali peran kesastraan dalam membangun dan membentuk karakter bangsa

2.       Mereposisikan kembali peran kesastraan dalam lokalitas dan globalitas

3.       Merevitalisasi peran kesastraan dalam mewujudkan masyarakat yang berbhineka tunggal ika

4.       Memperkuat peran sastra dalam silaturahmi antar bangsa

5.       Merekonsstruksi strategi pengajaran sastra sebagai pendidikan karakter

6.       Memperkokoh konstelasi sastra Indonesia dalam kancah sastra internasional

7.       Memperbandingkan perkembangan sastra Indonesia dengan sastra Italia, Portugal dan Sastra Melayu Asia Tenggara.

D.          SASARAN PESERTA:

1.       Dosen, Guru Bahasa Indonesia, dan peneliti bahasa

2.       Mahasiswa dan Pelajar

3.        Pemerhati Sastra

Materi Seminar/Pembicara

1.           Pramoedya dan Manusia dalam Sastra Indonesia: (Prof. Koh Young Hun, Hankuk University)

2.           Sastra Italia dan Pengajarannya di Sekolah (Emilia Maglione, Italia, Staf Ahli Kedubes Italia dan Dosen Tamu FIB UI)

3.           Perkembangan sastra Melayu Mutahir (Datok Kemala, Universitas Selangor Malaysia)

4.           Sastra Portugal dan Sastra Indonesia: Wahana Silaturahmi Bangsa dan Budaya  (Dani Susanto, UI)

5.           Pengaruh Satra Indonesia dalam Perkembangan Sastra Brunai (Brunai: Univ Brunai)

6.           Perkembangan Sastra Korea dan Sastra Indonesia dalam Konstelasi Sastra Asia (Hankuk University)

7.           Pengajaran Sastra sebagai Pintu Pembentukan Karakter (Prof Suminto A Sayuti, UNY)*

8.           Sastra Indonesia, Globalisasi dan Local Wisdom (Prof. Dr.Setya Yuwono Sudikan, UNesa)*

9.           Sastra dan Ideologi Kebangsaan (Dr.Aribowo, UNAIR)

10.        Pengajaran Sastra dan Karakter Bangsa (Prof. Dr. Djoko Saryono, Universitas Malang)

11.        Bhineka Tunggal Ika dalam Sastra Indonesia (Prof. Dr.Ayu Sutarto, Universitas Negeri Jember)

12.        Cerita Rakyat Korea dan Cerita Rakyat Indonesia Sebagai Pembentukan Karakter (Maman S. Mahayana, UI)

13.        Sastra, Sejarah dan Dialektika Budaya (Tjahjono Widijanto, M.Pd, STKIP PGRI Ngawi)

14.        Sastra Indonesia,dan Nasionalisel (Tjahjono Widarmanto, M.Pd)

15.        Estetika Daerah dan Sumbangannya Terhadap Seni Modern (Didi Kempot, Pengarang lagu

16.        Estetetika Daerah dan Sumbangannya Terhadap Puisi Indonesia Mutahir(Tiyanto Tiwikromo, Redaktur)

17.        Estetika Daerah dan Sumbangannya terhadap Cerpen Indonesia Mutahir (Beni Setia, Sastrawan)  

 

*)tentatif

Č
Ċ
ď
BAAK STKIP PGRI Ngawi,
17 Des 2010 01:26