SEMINAR KESASTRAAN
INTERNASIONAL STKIP PGRI NGAWI:
SASTRA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA
SERTA POSISINYA DALAM LOKALITAS DAN GLOBALITAS
A.
LATAR BELAKANG
Kehadiran karya
sastra merupakan simbolisasi dari pemikiran spekulatif pengalaman manusia atas
dirinya, bangsa dan dunianya. Dengan karya sastra lewat media berupa bahasa
sastrawan berusaha merefleksikan, berpikir dan berabstraksi terhadap realitas
manusia-bangsa dengan segenap permasalahannya. Proses refleksi diri ini bisa
menghasilkan sebuah kerangka pemikiran filosofis untuk mengungkapkan fakta atau
realitas hidup secara lebih komprehensif dan utuh. Pada saat inilah sastra
berbicara tentang upaya pencarian diri dan penyosokan identitas manusia dan
identitas bangsa sekaligus pula berperanan sebagai sebuah wahana intropeksi dan
motivasi diri. Dalam kerangka refleksi diri ini seringkali sastrawan melakukan
otokritik terhadap identis dirinya, identitas bangsa dan identititas budaya..
Berkaitan dengan kehidupan
berbangsa, sudah sejak lama sastra kita langsung maupun tidak langsung turut
ambil bagian dengan proses tumbuhnya bangsa.
Lahirnya sastra Indonesia
modern bermula dari sebuah produk lingkungan masyarakat yang terpojok sebagai
anak jajahan yang berusaha menemukan suatu cara ekspresi untuk mengatasi trauma
sebagai korban kolonial. Dapat diibaratkan bahwa kebudayaan nusantara akibat
kedatangan imperalisme Barat menjadi retak dan koyak-moyak, dalam koyak moyak
itulah muncul bahasa dan kesusastraan Indonesia. Bahasa dan
kesusastraan Indonesia
menemukan momuntem awalnya di tahun 1920-an dalam masa awal semangat
nasionalisme dimana sebuah elite baru muncul. Golongan elite baru ini berasal
dari kalangan terpelajar yang kemudian memunculkan semangat pembentukan satu
bangsa dan satu tanah air yang melalui media kesusastraan bergerak bersama
membidani mitos baru tentang pengontruksian kebersamaan yang oleh Benedict
Anderson disebut sebagai “imagined community”.
Semangat
untuk bergerak bersama merekontruksi tentang imagined community ini
terlihat transparan pada sajak-sajak Muh. Yamin dan Roestam Efendi yang sepakat
tidak lagi menyebut Andalas atau Sumatera sebagai tanah air mereka tetapi
mengikrarkan Indonesia
sebagai tanah air dan tumpah darah. Sekaligus pula timbul perlawanan terhadap
akar tradisi. Namun di sisi lain
penghujatan tradisi lewat representasi yang akrab dengan kaum muda lewat
tema-tema “kawin paksa” paksa tersebut juga membuka cakrawala imajinasi
kalangan muda Indonesia dalam skala yang lebih luas yaitu dalam skala state
atau nation. Dalam imajinasi kaum muda, seperti halnya Datuk Maringgih
yang tua, Nusantara lama mulai dianggap sebagai suatu “komunitas” usang yang
harus segara diganti dengan komunitas baru. Karena itu tidak sulit bagi para
muda pada generasi setelah generasi Siti Nurbaya, seperti M. Yamin,
Roestam Efendi, dr. Soetomo, Dr. Wahidin dan lain-lain untuk mengabaikan
berbagai perbedaan budaya nusantara dan tradisi asal masing-masing untuk
menghidupi sebuah komunitas baru yang mengimajinasikan modenitas muda seperti
Syamsul Bachri yang muda, penuh gairah semangat, yakni sebuah nation baru
bernama Indonesia.
Dalam
benak kaum muda waktu itu, Indonesia
diimajinasikan sebagai sebuah entitas baru yang demokratis tanpa kawin paksa,
sebuah negeri yang segar, belia, bisa mencinta dan merdeka dengan penuh
semangat. Dalam perspektif ini bisa dipahami mengapa para pemuda dalam berbagai
tradisi saat Kongres Pemuda dengan lapang dada menerima bahasa Melayu Riau
sebagai dasar bahasa Indonesia.
Bahasa Melayu (Indonesia)
diandaikan sebagai bahasa yang egalitarian tempat seorang muda dapat berbicara
dengan orang tua dalam posisi yang sama.
Perjuangan
politik dan kebudayaan melalui bahasa-sastra dalam upaya menggagas
manausia-bangsa menemukan puncaknya dengan munculnya perdebatan untuk menggagas
arah kebudayaan Indonesia
yang dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan”. Terjadi perdebatan dan diskusi yang
cukup lapang antara kamum muda dan kaum tua. Tidak ditemukan lagi kaum tua dan
tradisi yang dihujat seperti dalam Balai Poestaka. Kaum muda seperti Sutan
Takdir Alisyahbana dan Armyn Pane dengan penuh semangat dapat berdebat panjang
bahkan berpolemik dengan kaum tua seperti Ki Hajar Dewantoro dan Prof. Ngabei
Poerbatjaraka dengan nyaman dan intelektual dalam bingkai semangat menuju
kebudayaan baru Indonesia yang lebih baik.
Kini, delapan puluh tahun lebih
setelah Sumpah Pemuda dan Polemik Kebudayaan,masihkah sastra menjadi “jurus
ampuh” untuk menggagas atau membentuk sosok manusia-bangsa Indonesia kini?
Di sisi lain kondisi kehidupan
social budaya masyarakat kita kini
terlebih lagi kelak tidaklah sama persis dengan masa lalu. Tingkat komunalitas
masyarakat yang cenderung menurun,
kepedulian yang perlahan makin menipis, kebersamaan dan keguyuban yang tidak
lagi menjadi “seindah dulu”, tingkat persaingan individu yang makin tinggi,
kenderungan turunnya spiritualitas dan moral akibat “iming-iming” kebutuhan
praktis yang cenderung material, tentu turut membawa perubahan besar pada wajah
social budaya manusia bangsa.
Dalam situasi itu pula sastra Indonesia sekarang dan kelak seperti halnya
manusia-bangsa Indonesia,
kini dan ke depan tak mungkin menghindar dari pergaulan bahkan kemutlakan
sastra dunia. Sastra Indonesia
kini dan akan datang telah menjadi bagian dari sastra dunia. Dari pergaulan
satra dunia tentulah akan banyak hal yang dapat dijelajahi, dipahami sekaligus
dipelajari bahkan apabila mungkin disandingkan dengan kekayaan sastra local
yang telah kita miliki. Karena justru dalam himpitan global itu akan selalu
muncul “mitos” baru sebagai tanggapan atas mnitos yang sudah ada sebelumnya,
tradisi inilah yang menyebabkan kita dan
sastra kita memiliki masa lampau
sekaligus masa depan. Di tengah gelontoran global itu pula sastrawan Indonesia
yang mampu memanfaatkan sejarah yang tidak saja sekedar sebagai pas significance namun lebih
menyikapinya sebagai sebuah pendekatan antikurian dan kritis yang dapat
meletakkannya dengan hubungannya dengan masa kini (present of meaning), bahkan sebagai future meaning akan lebih mengukuhkan identitas sastra Indonesia
sekaligus membentuk karakter
manusia-bangsa Indonesia
B.
TEMA SEMINAR:
“SASTRA INDONESIA DAN PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA SERTA POSISINYA DALAM
LOKALITAS DAN GLOBALITAS”
C.
TUJUAN
1. Merekonstruksi kembali peran kesastraan dalam membangun dan membentuk
karakter bangsa
2. Mereposisikan kembali peran kesastraan dalam lokalitas dan globalitas
3. Merevitalisasi peran kesastraan dalam mewujudkan masyarakat yang berbhineka
tunggal ika
4. Memperkuat peran sastra dalam silaturahmi antar bangsa
5. Merekonsstruksi strategi pengajaran sastra sebagai pendidikan karakter
6. Memperkokoh konstelasi sastra Indonesia dalam kancah sastra internasional
7. Memperbandingkan perkembangan sastra Indonesia dengan sastra Italia,
Portugal dan Sastra Melayu Asia Tenggara.
D.
SASARAN PESERTA:
1. Dosen, Guru Bahasa Indonesia, dan peneliti bahasa
2. Mahasiswa dan Pelajar
3. Pemerhati Sastra
Materi Seminar/Pembicara
1.
Pramoedya dan Manusia dalam Sastra Indonesia: (Prof. Koh Young Hun, Hankuk University)
2.
Sastra Italia dan Pengajarannya di Sekolah (Emilia
Maglione, Italia, Staf Ahli Kedubes Italia dan Dosen Tamu FIB UI)
3.
Perkembangan
sastra Melayu Mutahir (Datok Kemala,
Universitas Selangor Malaysia)
4.
Sastra Portugal
dan Sastra Indonesia:
Wahana Silaturahmi Bangsa dan Budaya
(Dani Susanto, UI)
5.
Pengaruh Satra Indonesia dalam Perkembangan Sastra
Brunai (Brunai: Univ Brunai)
6.
Perkembangan Sastra Korea
dan Sastra Indonesia dalam
Konstelasi Sastra Asia (Hankuk
University)
7.
Pengajaran
Sastra sebagai Pintu Pembentukan Karakter (Prof Suminto A Sayuti, UNY)*
8.
Sastra
Indonesia,
Globalisasi dan Local Wisdom (Prof. Dr.Setya Yuwono Sudikan, UNesa)*
9.
Sastra
dan Ideologi Kebangsaan (Dr.Aribowo, UNAIR)
10.
Pengajaran
Sastra dan Karakter Bangsa (Prof. Dr. Djoko
Saryono, Universitas Malang)
11.
Bhineka
Tunggal Ika dalam Sastra Indonesia (Prof. Dr.Ayu Sutarto, Universitas Negeri
Jember)
12.
Cerita
Rakyat Korea dan Cerita Rakyat Indonesia Sebagai Pembentukan Karakter (Maman S.
Mahayana, UI)
13.
Sastra,
Sejarah dan Dialektika Budaya (Tjahjono Widijanto, M.Pd, STKIP PGRI Ngawi)
14.
Sastra Indonesia,dan Nasionalisel (Tjahjono Widarmanto,
M.Pd)
15.
Estetika Daerah dan Sumbangannya Terhadap Seni Modern (Didi
Kempot, Pengarang lagu
16.
Estetetika Daerah dan Sumbangannya Terhadap Puisi
Indonesia Mutahir(Tiyanto Tiwikromo, Redaktur)
17.
Estetika Daerah dan Sumbangannya terhadap Cerpen
Indonesia Mutahir (Beni Setia, Sastrawan)
*)tentatif